INTEGRITY AND CAPACITY
Bismillaah,
Setelah 27 tahun reformasi, negeri ini sudah tidak butuh lagi personal branding (pencitraan diri), yang banyak menghiasi jagat maya atau media sosial saat ini.
Merujuk pada kata ‘pencitraan’ yang berasal dari kata citra, terselip pesan sebagai gambaran yang dimiliki masyarakat umum tentang pribadi, perusahaan, organisasi, lembaga, atau produk tertentu.
Atau, pencitraan memiliki makna tentang upaya yang dilakukan oleh pribadi, perusahaan, organisasi, lembaga, atau produk tertentu, agar masyarakat umum memandangnya sebagai sosok atau produk yang baik, dan layak dipercaya untuk dipilih.
Seringkali pencitraan dilakukan untuk menutupi sesuatu yang buruk. Atau, pencitraan adalah ‘pembungkusan diri’ dengan gambaran yang disukai oleh publik. Meski pesan atau produk yang diberikan tidak jelas value- nya, bahkan cenderung tak bernilai.
Dalam Islam, kita diperintahkan untuk berlomba-lomba dalam meraih kebaikan. Misalnya, berlomba-lomba berdonasi sebagai aksi sosial meringankan beban kaum dhu’afa. Namun, jangan ada udang di balik batu, karena ini yang dilarang keras oleh Islam. (QS. 2:264).
Pencitraan diri dalam tradisi Islam tidak pernah ada. Alih-alih melakukan pencitraan diri, mengajukan diri sebagai pemimpin saja dilarang keras dalam Islam. Peringatan keras Rasulullah SAW., “Janganlah engkau meminta jabatan. Sebab, jika engkau diberi kekuasaan tanpa memintanya, engkau akan ditolong untuk melaksanakannya. Tetapi, jika engkau diberi kekuasaan dengan cara meminta, engkau akan dipalingkan dari pertolongan Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Hari ini, apapun profesi yang dipilih, apakah pengusaha, jabatan publik, pemimpin organisasi, anggota LSM, diaspora, atau pegiat sosial lainnya, yang sangat dibutuhkan masyarakat adalah sosok yang dapat dipercaya dan diandalkan. Dipercaya karena integritasnya (integrity), dipilih karena kapabilitasnya (capability).
Hal tersebut senafas dengan pesan Rasulullah SAW., “Sesungguhnya Allah menyukai seseorang yang ketika mengerjakan sebuah pekerjaan dilakukan dengan profesional.” (HR. Thabrani). Dan dalam hadits lain, “Apabila sebuah urusan diberikan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah waktu kehancurannya.”
(HR. Bukhari).
Dari kedua pesan Rasulullah SAW. di atas, menjadi jawaban tuntas, bahwa apapun profesi kita, harus dikerjakan dengan penuh integritas dan kapabilitas. Diperkuat lagi dengan pesan Allah, “Setiap orang bekerja sesuai kompetensinya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” (QS. 17:84).
Karena itu, membaca bencana Sumatera Utara-Padang-Aceh (SPA) hanya sebagai takdir, membuat kita kehilangan integritas (moral) dan kapabiltas (tanggung jawab). Kita tidak bisa menebang hutan, lalu berharap gunung tetap tegak dan sungai tenang. Menyalahkan hujan tanpa menyinggung kerakusan manusia hanya akan melahirkan siklus bencana yang berulang.
Hal itu berdampak pada dasyatnya luapan air sungai di Sumatera Utara, Padang, dan Aceh, yang membawa kayu gelondongan hingga merenggut nyawa anak-anak dan lansia tak berdosa. Fenomena ini jawaban telak atas ulah tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab. (QS. 30:41).
Di tengah hiruk pikuk saling tuding, ada satu pihak yang tak pernah bisa dibohongi, yaitu alam semesta. Maka, kisah banjir di zaman Nabi Nuh, sangat relevan dijadikan rujukan untuk membaca kondisi moral dan tanggung jawab sebuah masyarakat saat ini. Minimal ada tiga hikmah di baliknya.
Pertama, kerusakan moral mendahului kerusakan alam. Ketika nilai-nilai keadilan, kejujuran, dan amanah hilang, lingkungan pun ikut rusak.
Kedua, peringatan selalu datang sebelum kehancuran. Baik peringat melalui Rasul, ulama, teman dekat, atau riset ilmiah tentang risiko kerusakan sebuah lingkungan.
Ketiga, harapan selalu ada bagi mereka yang membangun bahtera ketaatan. Bahtera adalah keteguhan pada nilai kebenaran, bukan sekadar kapal fisik.
Konsekuensi dari bencana ini, kita harus mengedepankan moral dan tanggung jawab (Integrity and capability) dalam mengelola dan memakmurkan bumi Allah ini sebagai khalifah.
Sebuah panggilan spiritual untuk kembali membaca ayat-ayat Allah, baik yang tertulis maupun yang terbentang di alam luas ini.
Simpulan
Hanya dengan moral dan tanggung jawab, kita dapat memakmurkan bumi Allah ini. Selama nafsu serakah dan kepentingan pribadi atau korporasi yang mengatur, selama itu pula alam akan terus menegur.
Wallahul Musta'an …
------------------------------------------------------------------
Oleh : Nur Alam, Jum’at Penuh Berkah, 15 Jumadil Akhir 1447 H./5 Desember 2025 M. Pukul 05.00 WIB.
