EDUCATE YOUR CHILDREN
Bismillaah,
Dalam sepekan ini ada pemandangan menarik, para orang tua murid sedang menghadiri undangan sekolah untuk melihat kemajuan belajar putera puterinya di sekolah.
Sesuai undang undang pendidikan, secara garis besar muatan laporan kemajuan belajar murid-murid di Indonesia berisi tiga ranah. Kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kognitif, menjelaskan pengetahuan. Afektif, menggambarkan sikap. Dan psikomotorik, menunjukkan keterampilan.
Maka, tugas pokok seorang pendidik adalah memfasilitasi murid agar ketiga ranah tersebut tumbuh dan berkembang sesuai potensinya dalam proses pembelajaran di sekolah, untuk kemudian menjadi sebuah prestasi (achievement), yang direpresentasikan dalam sebuah buku laporan hasil belajar murid, yang disebut dengan ‘Rapor.’
Dalam Islam, ketiga ranah tersebut sangat penting untuk dikembangkan masing-masing. Namun, ranah sikap (akhlak, moral, atau karakter) yang sangat diutamakan. Tidak mengapa nilai kognitif dan psikomotorik anak-anak kita kurang bagus, tapi nilai (akhlak, moral, atau karakter) harus yang paling diuatamakan dari yang lain.
Hal tersebut seperti dijelaskan dalam Al-Qur’an, “Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berakhlak (budi pekerti) yang mulia.” (QS. 68:4). Dan dalam Al-Hadits, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
Era digital hari ini menjadi era kompetisi bagi anak-anak kita. Sebelum mereka menguasai berbagai kompetensi untuk hidupnya, yang harus di-nomorsatukan adalah bekal akhlak mulia. Pesan Imam Malik kepada pemuda Quraisy, “Belajar adablah dahulu sebelum kalian belajar ilmu.” Senada dengan itu, Ibnu Abbas RA. juga berpesan, "Belajarlah adab, karena adab menajamkan fikiran, menunjukkan harga diri, sahabat dalam keterasingan, dan harta dalam kekurangan.”
Karena begitu pentingnya akhlak mulia, dari Ali bin Thalib, Rasulullah SAW. pernah berdo’a, “Ya Allah, tunjukilah padaku akhlak yang baik, tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan palingkanlah kejelekan akhlak dariku, tidak ada yang memalinggkannya kecuali Engkau.” (HR. Muslim).
Setelah akhlak mulia, warisan terbaik untuk anak-anak kita adalah ilmu. Ibnul Qayyim pernah menasehati para orang tua, “Orang tua yang sungguh-sungguh menginginkan kebaikan bagi anaknya, ia akan mendidik mereka dengan adab dan ilmu. Karena keduanya adalah warisan utama, bukan harta dan kedudukan.”
Bahkan, Rasulullah SAW. sangat mewanti-wanti para orang tua dengan sabdanya, “Sesungguhnya aku tidak mewariskan dinar dan dirham, akan tetapi aku mewariskan ilmu. Maka barang siapa yang mengambilnya, berarti ia telah mengambil bagian yang banyak." (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan Tirmidzi).
Sebagian dari generasi Milenial dan Gen-Z kita hari ini, mereka sedang memiliki posisi yang bergengsi. Tapi tanpa akhlak dan ilmu, dunia bisa menjerumuskannya. Sebaliknya, jika mereka memiliki akhlak dan ilmu yang kokoh, mereka akan kuat menghadapi kompetisi hidup, meski tak diwarisi harta berlimpah.
Sebagai orang tua Muslim yang terdidik (well-educated parents), tak ada warisan yang berkelas, kecuali sesuatu yang tak lekang kena panas, dan lapuk kena hujan. Tiga warisan yang berkelas itu adalah akhlak yang meneduhkan sesama manusia, ilmu yang menuntun menuju Allah, dan iman yang menjadikan hamba Allah mulia dan produktif.
Untuk murid-murid kita yang hari ini sedang menerima rapor hasil belajarnya, tidak cukup kalian dengan capaian nilai-nilai baik di atas kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran (KKTP), nilai kokurikuler dan ekstrakurikuler yang bagus saja, tapi harus dikedepakan akhlak, moral, dan karakter yang terpuji, sebagai bekal menghadapi kompetisi hidup di abad 21 ini.
Untuk para pendidik Muslim, anak-anak kita adalah titipan (amanah) Allah. Mereka harus dididik, dibimbing, diarahkan, dibelajarkan, dan difasilitasi untuk menjadi anak-anak yang berbekal diri dengan aqidah yang lurus, akhlak yang mulia, amal yang shaleh, ilmu yang bermanfaat, dan etos kerja yang kompetitif.
Mengapa demikian? Karena anak-anak kita akan menjalani kompetisi kehidupan pada zamannya, bukan pada zaman kita (Educate your children for a time not yours).
Simpulan
Apa dan bagaimanapun zamannya, anak-anak kita akan mampu berkompetisi dalam hidupnya, ketika nilai-nilai akhlak, moral, dan karakter mulia ada dalam genggamannya.
Jangan pernah wariskan anak-anak kita dengan bekal didikan yang menihilkan nilai-nilai mulia tersebut.
Fastabiqul khairat …
------------------------------------------------------------------
Oleh : Nur Alam, Jum’at Penuh Berkah, 29 Jumadil Akhir 1447 H./19 Desember 2025 M. Pukul 04.55 WIB.
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
TAKE IT OR LEAVE IT
Bismillaah, Di manapun kita berada, sampai di sebuah masyarakat yang sangat primitif sekalipun, pasti ada aturan yang harus ditaati, baik berupa perintah atau larangan. Sebuah analogi
INJURY TIME
Bismillaah, Setiap wasit meniup pluit panjang, ini menjadi tanda berakhirnya sebuah pertandingan. Tanda ini yang harus ditaati oleh setiap pemain, di mana dan kapanpun. Maknanya, sebe
SUSTAINABLE SELF TRASFORMATION
Bismillaah, Beberapa hari lagi pergantian tahun baru Masehi akan terjadi. Momen itu bukan sekadar pergantian dari waktu ke waktu, tapi harus menjadi motivasi untuk perubahan diri. Man
INTEGRITY AND CAPACITY
Bismillaah, Setelah 27 tahun reformasi, negeri ini sudah tidak butuh lagi personal branding (pencitraan diri), yang banyak menghiasi jagat maya atau media sosial saat ini. Merujuk pad
ENERGY OF GOODNESS
Bismillaah, Setiap kebaikan yang kita lakukan, dampak energi kebaikannya akan terus mengalir dan bermetamorfosis. Terus bergerak menjadi berbagai bentuk kebaikan yang lain. Sebelum ke
GOD’S SCENARIO
Bismillaah, Di ruang publik kita, sedang masif cerita tentang alam yang meluluh-lantahkan jutaan rumah, pepohonan, jembatan, dan menimbun ribuan rakyat kecil tak berdosa. Dalam kondis
DEDIKASI DALAM SUNYI
Hari ini, Selasa, 25 November 2025, diperingati sebagai Hari Guru Nasional yang ke-80, sebuah perjalanan dedikasi para guru yang sangat panjang di negeri ini. Suasana khidmat hari ini
Bekal Profesi Kehidupan Anak
Bismillah, Implementasi dari Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), membekali murid-murid untuk memiliki kesadaran penuh (mindful), kebermaknaan (meaningful), dan suasana menyenangkan
MINDSET OF STOICISM
Bismillaah, Di era digital ini, teknologi informasi telah mengubah hampir semua aspek kehidupan manusia. Mulai dari cara berinteraksi, belajar, bekerja, sampai beribadah. Fenomena ter
FORTY YEARS
Bismillaah…, Jangan tertipu dengan gemerlap dunia, hingga melupakan kematian. Karena merasa fisik masih sehat, akal pikiran belum menua, dan masih aktif beraktivitas keseharian.
